Sabtu, 07 Mei 2011

Rebab dan Cinta

Alkisah, di tengah keramaian jalan sebuah kota kecil, sayup-sayup terdengar suara merdu musik di gesek. Lagu yang bernada sedih membuat orang yang mendengarnya terharu.
Selesai memainkan alat musiknya, terdengar tepuk tangan orang-orang yang terkesima. Orang muda yang memainkan alat musik itu pun berdiri dan membungkukkan badan, mengucap terima kasih atas penghargaan yang diberikan.
Salah seorang penonton setengah baya, yang telah beberapa saat mengamat si pemuda bermain musik, menghampiri dan bertanya kepadanya, "Hai anak muda, kamu tampaknya bukan penduduk sini. Permainan musikmu bagus sekali. Apa yang hendak engkau sampaikan lewat lagu sedih yang engkau mainkan tadi?".
"Saya memang bukan penduduk sini, Pak. Saya dari desa sebelah yang sedang tertimpa musibah," Terang pemuda itu.
"Kamu ingin uang receh sebagai gantinya? "
"Oh, tidak Pak! Saya tidak menjual musik demi uang recehan, "seru si pemuda.
"Lho, jadi untuk apa kamu bermain musik di tengah keramaian seperti ini?" lanjutnya.
"Sebenarnya saya bermaksud ingin menjual alat musik ini. Saya sengaja bermain musik agar calon pembeli bisa mendengarkan merdunnya alat musik kesayangan saya ini," jawab si pemuda seraya mengangsurkan alat musiknya.
Sambil menerima dan meneliti alat musik tersebut, si tuan kembali bertanya, "Jika ini alat musik kesayanganmu, kenapa kamu rela menjualnya? "
"Tolong saya Tuan, istri saya menunggu kelahiran. Walaupun alat musik ini harta terakhir yang sangat saya sayangi, tetapi saya tahu, saya pasti lebih mencintai istri dan anak saya. Demi sebuah kehidupan baru, rasanya layaklah pengorbanan ini," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar itu, si tuan lantas merogoh kantong baju, mengeluarkan kepingan emas. "Terimalah uang ini untuk membantu kelahiran anakmu."
Setelah menerima emas itu, si pemuda berseru, "Terima kasih banyak Tuan! Sebagai  bonus, saya berjanji akan mengajarkan bagaimana memainkan alat musik ini kepada Bapak."
Namun, ternyata tuan itu justru mengembalikan alat musik tersebut. Mendapat perlakuan seperti itu, si pemuda merasa kebingungan. "Apa yang salah? Tadi Bapak sudah mendengar suaranya yang merdu, bukan? "tanyanya.
"Ha..Ha..Ha, tidak ada yang salah.Saya sengaja membayarmu untuk menyimpan alat musik ini.Karena alat ini tempatnya di tanganmu.Saya yakin, tidak seorangpun mengenal dan bisa memainkannya sebagus dirimu. Kerelaan menyerahkan hartamu yang paling berharga, demi cinta yang kau berikan latyak dihargai dengan upah yang saya berikan."
Terharu dengan pemberian itu, sambil terbata-bata si pemuda bertanya, "Bagaimana saya membalas kebaikan ini? "
"Anak muda, berikan cinta kepada anakmu, dan limpahkan kasih sayang kepada istrimu, dengan begitu kamu telah melunasi kebaikanku," Ucap tuan itu.


Little Swan sekalian...
Berkorban bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan, terlebih jika mengorbankan hal yang aling kita senangi. Tapi, dengan memberi, apalagi memberi tanpa mengharapkan imbalan, ini akan membawa kebahagiaan.
Seperti cerita di atas, sang pemusik yang rela mengorbankan satu-satunya benda kesayangannya demi keluarga, emndapat kebaikan yang tidak disangka.
Begitu juga semestinya kehidupan kita. Demi orang yang kita sayangi, demi sesama dan sekeliling kita yang kekurangan, jika disertai dengan keikhlasan, sebuah pengorbanan akan membuahkan balasan kebaikan.
Ada kata mutiara yang sangat cocok untuk di ingat dan dipraktekkan dalam kehidupan. "We make a living by what we get, but we make a life by what we give."
Kita menjalani kehidupan dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita membuat idup dari apa yang kita berikan. Karena itu, hidup akan tetrasa lebih hidup dan lebih bernilai, jika kita mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Dengan memberi, kita tidak akan pernah kekurangan.Kita justru akan merasakan nikmat berbagi dengan orang lain. Mari , persembahkan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi dan pada sekeliling kita, dengan begitu kenikmatan dan kebahagiaan sejati akan mengiringi langkah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar